ada banyak tempat di indonesia yang memiliki dan masih ber asa untuk penegakan hukumnya. istilah Buya Syafi'i yang terus saya kenang, bahwa kita tidak boleh putus asa dalam melihat setiap aspek kehidupan bangsa. tapi, tetap saja kita khawatir. korupsi meajalela, sindikat mafa hukum berjubelan dan nyaris menutupi putihnya hukum di Indonesia. tentu masih ingat dan segar bagaimana hampir seluruh kasus yang melibatkan institusi keuangan negara kita berakhir dalam awang-awang alias hilang entah kemana. yang diurusi negara adalah yang remeh temeh dengan orang2 kecil yang diproses, sudah sulit hidup, dihukum pula. tidak tahu kita bagaimana nasib keluarga mereka yang ditinggal si empunya..
tapi, seperti kata Buya Syafi'i, kita jangan berputus asa. hal inilah yang selalu saya sadarkan dalam ingatan saya ketika menemui hal-hal luar biasa di tempat saya tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta. kejadian ini adalah kejadian asli dan merupakan harapan akan penegakan hukum bagi saya.
BANTUL
sore hari seperti biasa saya keluar dari tugas ngajar saya di PRIMAGAMA cabang Griya Alvita jam 6:15. setelah sholat maghrib dulu. rencananya saya langsung mau privat lagi dan baru pulang. di jalan, kurang lebih 200m ada lampu merah. saya tidak sadar kalo lampu merah dan ngeluyur aja..(Kebiasaan sms dijalan, jadi tidak terlalu perhatian sama kondisi jalan.JANGAN DITIRU!!!!)
nah baru 100m dari lampu merah saya dicegat sama pak polisi. meminta surat2 dan saya disuruh untuk ke pos. seperti biasa, jurus ke-1; saya siapkan uang 20 rbu buat sogokan (JANGAN DITIRU JUGA!!!). sampai di pos, ditanya macam-macam dan akhirnya putusan pun di buat melanggar 2 pasal dengan denda 50 ribu. JLEG!!!..banyak amat..jurus ke-2 dilakukan; dengan muka melas dan penuh kesedihan saya minta diberi keringanan dengan imbalan uang 20rb..ehh biasanya jurus ini ampuh dan pak polisi akan menerima. tapi pak polisi ini lain (Saya sampe lupa mengingat namanya karena saking kagumnya), dia ga mau dikurangi dan terus..terus..dan terus menenkankan kepada saya untuk ikut sidang saja. boleh titip tapi uangnya g bisa kurang karena akan disodorkan ke pengadilan. tetpai dia terus mengatakan akan lebih baik kalo sidang saja.
akhirnya jurus ke-3; Pasrah. saya menerima sidang tgl 5 januari jam 9 pagi.
seperti pengalaman sebelumnya di daerah kota yogyakarta, jika sidang dimulai pukul 9 pagi maka saya cukup datang sekitar pukul 10-ankarena sidang baru dimulai skitar pukul tsb. (Pengalaman pribadi juga, waktu dulu ada sidang, saya datang jam 830 dengan harapan bisa cepet. ternyata nunggu sampe hampir 2 jam baru dimulai). berangkat dari kost jam 9 dan sampe di tempat sidang jam 945. maklum sambil nyari lokasi sidang. begitu masuk, yinggal buhakim1,buhakim2 dan surat2 dihadapannya. ketika saya tanya, begini omongannya
A: Bu, sidangnya dimulai kapan?
B: Lhaa sudah selesai dek, jadwalnya jam berapa hayo???
A: Hah..dah selesai ibu?jam 9..tapi menurut pengalaman saya, didaerah lain molor ibu?
B: disini Bnatul dek, jadi tepat waktu..
A: mank selalu tepat waktu Bu?
B: Tergantung pesanan dek..tapi kami teepat waktu kog
A: ohhh..makasih bu (Dalam hati, saya bertanya;teergantung pesanan siapa ya?pasti orang yang pesan itu sangat tegas sampai2 urusan pengadilan SIM aja harus tepat waktu..hemm)
sambil mengurus, dengan kena denda 40 rb..(lumayan, daripada 50 rbu..) saya keluar pengadilan negri dan berjalan pulang..negeri apa ini??? BANTUL rupanya..semoga tetap berkah ya negeri ini..Amiiin
Komentar
Posting Komentar